Hai guys!!
Setelah vakum dari dunia blog kira-kira 1,5 tahun alias 19 bulan, akhirnya gue memutuskan untuk aktif kembali di dunia blog. Sebenernya sih karena ada salah satu mata kuliah yang gue pelajari menuntut gue untuk mempergunakan blog sebagai media pembelajaran. TUGAS maksudnya! hehe. Yap, kali ini gue sudah berevolusi dari siswa SMA menjadi mahasiswa, jadi yaaaa mulai sekarang bahasa serta tata cara menulis gue sedikit berubah, yaa lebih gue tekankan kepada EYD atau endangered young duck eh maksudnya ejaan yang disempurnakan hihihi. So, welcome to my blog again! Thanks :D
Gue
- Gigih Laksono
- Bogor, Jawa Barat, Indonesia
- Seorang siswa yang sedang berevolusi menjadi mahasiswa. Jack of All Trades
Tampilkan postingan dengan label Abstrak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Abstrak. Tampilkan semua postingan
Kamis, 20 November 2014
Minggu, 10 Februari 2013
Minggu malam
Hey, kemaren postingan gue rada aneh. Pengen nyoba aja itu iseng hahaha gimana? jijik ga?
Oh iya Manchester United lagi main ama Everton nih, semoga aja MU menang. #GGMU !!!
Dadah,
Lagi nonton MU vs Everton (penting)
Oh iya Manchester United lagi main ama Everton nih, semoga aja MU menang. #GGMU !!!
Dadah,
Lagi nonton MU vs Everton (penting)
Selasa, 05 Februari 2013
Khayalan Tingkat Tinggi
Mimpi.
Kadang senang kadang tidak. Kadang indah kadang tidak. Kadang ingat kadang lupa.
Kadang.. bisa kita bayangkan sendiri isinya.
Kejadian nyata yang belum terjadi tetapi pasti akan terjadi muncul saat ia mati sesaat. Orang yang kita sayangi, begitu kita sayangi, raib. Khayalan sesaat yang terjadi sewaktu bercelana merah tak selutut terulang lagi. Suara tangis khayalan menjadi nyata. Sungguhan.
Lewati malam dengan niat bangun di pagi yang cerah menjadi lorong kegelisahan. Saat anak muda yang belum bisa mengerti hidup mendapatkan pesan singkat bertangiskan mimpi. Iya, anak muda itu menangis. Dalam mimpi penuh kegelisahan. Gelisahnya anak muda labil yang masih menginginkan pengawal dunianya terus bersamanya, karena hilang. Khayalan itu berotasi dalam khayalannya. Tak sekali. Berkali-kali.
Anak yang masih bermimpi, terus maju ke depan lewati waktu, bolong mimpinya. Kehidupan yang seakan biasa saja ini berubah mencekam seperti akhir dari segalanya. Tanpa warna, tanpa kehidupan. Dia yang seorang diri bergejolak dalam khayalan kelamnya itu takjub. Tak berucap sebibir kata. Diam.
Dia menanggung seorang diri kesedihan yang tercipta di imajinasi sesaatnya. Tak menyangka bahwa ini adalah suatu pesan untuknya. Pesan yang disematkan lewat mimpi seorang anak kecil. Pesan yang mungkin akan dia ingat. Pesan yang akan membawanya pada kesedihan.
Suara tajam yang menyayat telinga siapa pun yang mendengarnya tiba-tiba datang sekali lagi. Bukan De Javu, apalagi Lucid Dream. Warna putih tua menyelimuti seluruh lapisan sekitarnya. Serasa hampa, tak bernyawa. Sang Malaikat dunia yang mengajarkan cara berjalan, berjalan jauh. Menjauhi anak yang telah ia ajarkan segalanya. Malam yang sangat pedih, penuh kobaran kehampaan. Sedih. Sangat dalam. Ketika halusinasi air yang berkucuran ini menjadi nyata dalam realita, apakah ini peringatan? pesan? atau apa?
Dia masih terlalu muda. Belum bisa mengerti. Belum.
Selimut yang melindungi dagingnya dari dinginnya angin malam menjadi saksi bahwa telah terjadi perpecahan mendalam di hati anak muda itu. Dingin yang menjadi-jadi. Karena air yang terhembus angin melekat erat di selimut itu, seorang anak kecil yang biasanya ceria, mendadak diam, seakan tak bernyawa. Dalam khayalannya yang pedih itu ia menangis. Deras sekali. Bak Niagara yang memecahkan udara, ia menjerit.
Malaikat yang disebut tiga kali, tertidur lelap tak berkedip. Tak bernyawa. Kosong.
Bocah ceria itu menangis tak hentinya. Selimut yang menemaninya pun ikut berduka. Anak kecil itu merasakan kepedihan yang nyata layaknya pertempuran perasaan yang terjadi ketika sesuatu yang kita sayangi diam. Bukan diam biasa, tetapi diam menanti esok. Iya benar, esok yang kekal.
Terus menangis seakan-akan khayalan ini bukan khayalan. Seperti kehidupan nyata, sungguhan. Diselimutilah malaikat itu dengan tanah yang sangat lembut. Menangis tiada henti anak itu hingga ia benar-benar menjerit. IBU, IBU! IBU!!!
Terhempaslah anak muda itu ke dunia. Kembali ke alamnya. Iya heran, mengapa malaikatnya tidak ada di hadapannya. Dimana? Mana semua yang tadi terjadi? Kemana itu semua?
Lelaki kecil itu meneteskan air mata yang jatuh membasahi pipinya. Ia seakan baru saja melewati hal yang sungguh kelam. Pedih, dan mencekam sekali tidurnya. Ia terharu melihat ibunya telah pergi meninggalkan sang pemimpi. Ia sedih. Ia menangis. Ia beremosi tinggi. Cerita panjang yang ia lalui semalam membuatnya takut setengah mati. Gemetar.. Takut... Berlarilah anak itu ke tempat ibunya tidur. Masih ada. Bernapas dan tersenyum. Ia lega ternyata itu hanyalah mimpi. Mimpi yang membuat khayalannya seakan nyata. Ia bersyukur akan kejadian itu, karena ia dapat melihat kejadian yang akan datang nantinya. Kematian.
Ibu, adalah seseorang yang sangat ia sayangi dan tak akan pernah ia sakiti. Bocah itu berdoa agar kelak ia dapat melewati proses hidup dengan tenang, puas dan senyuman. Proses di mana kejadian yang telah terjadi dalam tidurnya itu menjadi nyata nantinya. Khayalan tingkat tinggi yang dapat membuat seseorang menangis nyata ini adalah pesan, dari sang pencipta. Video nyata dari Tuhan. Allah yang Maha Esa.
Makna tersirat dari mimpi, untuk bersyukur dan tak menyia-nyiakan segalanya.
Setelah ia pulih, ia meneteskan tanda kesedihannya sekali lagi. Dengan senyuman.
Pertanda,
Sang pemimpi
Kadang senang kadang tidak. Kadang indah kadang tidak. Kadang ingat kadang lupa.
Kadang.. bisa kita bayangkan sendiri isinya.
Kejadian nyata yang belum terjadi tetapi pasti akan terjadi muncul saat ia mati sesaat. Orang yang kita sayangi, begitu kita sayangi, raib. Khayalan sesaat yang terjadi sewaktu bercelana merah tak selutut terulang lagi. Suara tangis khayalan menjadi nyata. Sungguhan.
Lewati malam dengan niat bangun di pagi yang cerah menjadi lorong kegelisahan. Saat anak muda yang belum bisa mengerti hidup mendapatkan pesan singkat bertangiskan mimpi. Iya, anak muda itu menangis. Dalam mimpi penuh kegelisahan. Gelisahnya anak muda labil yang masih menginginkan pengawal dunianya terus bersamanya, karena hilang. Khayalan itu berotasi dalam khayalannya. Tak sekali. Berkali-kali.
Anak yang masih bermimpi, terus maju ke depan lewati waktu, bolong mimpinya. Kehidupan yang seakan biasa saja ini berubah mencekam seperti akhir dari segalanya. Tanpa warna, tanpa kehidupan. Dia yang seorang diri bergejolak dalam khayalan kelamnya itu takjub. Tak berucap sebibir kata. Diam.
Dia menanggung seorang diri kesedihan yang tercipta di imajinasi sesaatnya. Tak menyangka bahwa ini adalah suatu pesan untuknya. Pesan yang disematkan lewat mimpi seorang anak kecil. Pesan yang mungkin akan dia ingat. Pesan yang akan membawanya pada kesedihan.
Suara tajam yang menyayat telinga siapa pun yang mendengarnya tiba-tiba datang sekali lagi. Bukan De Javu, apalagi Lucid Dream. Warna putih tua menyelimuti seluruh lapisan sekitarnya. Serasa hampa, tak bernyawa. Sang Malaikat dunia yang mengajarkan cara berjalan, berjalan jauh. Menjauhi anak yang telah ia ajarkan segalanya. Malam yang sangat pedih, penuh kobaran kehampaan. Sedih. Sangat dalam. Ketika halusinasi air yang berkucuran ini menjadi nyata dalam realita, apakah ini peringatan? pesan? atau apa?
Dia masih terlalu muda. Belum bisa mengerti. Belum.
Selimut yang melindungi dagingnya dari dinginnya angin malam menjadi saksi bahwa telah terjadi perpecahan mendalam di hati anak muda itu. Dingin yang menjadi-jadi. Karena air yang terhembus angin melekat erat di selimut itu, seorang anak kecil yang biasanya ceria, mendadak diam, seakan tak bernyawa. Dalam khayalannya yang pedih itu ia menangis. Deras sekali. Bak Niagara yang memecahkan udara, ia menjerit.
Malaikat yang disebut tiga kali, tertidur lelap tak berkedip. Tak bernyawa. Kosong.
Bocah ceria itu menangis tak hentinya. Selimut yang menemaninya pun ikut berduka. Anak kecil itu merasakan kepedihan yang nyata layaknya pertempuran perasaan yang terjadi ketika sesuatu yang kita sayangi diam. Bukan diam biasa, tetapi diam menanti esok. Iya benar, esok yang kekal.
Terus menangis seakan-akan khayalan ini bukan khayalan. Seperti kehidupan nyata, sungguhan. Diselimutilah malaikat itu dengan tanah yang sangat lembut. Menangis tiada henti anak itu hingga ia benar-benar menjerit. IBU, IBU! IBU!!!
Terhempaslah anak muda itu ke dunia. Kembali ke alamnya. Iya heran, mengapa malaikatnya tidak ada di hadapannya. Dimana? Mana semua yang tadi terjadi? Kemana itu semua?
Lelaki kecil itu meneteskan air mata yang jatuh membasahi pipinya. Ia seakan baru saja melewati hal yang sungguh kelam. Pedih, dan mencekam sekali tidurnya. Ia terharu melihat ibunya telah pergi meninggalkan sang pemimpi. Ia sedih. Ia menangis. Ia beremosi tinggi. Cerita panjang yang ia lalui semalam membuatnya takut setengah mati. Gemetar.. Takut... Berlarilah anak itu ke tempat ibunya tidur. Masih ada. Bernapas dan tersenyum. Ia lega ternyata itu hanyalah mimpi. Mimpi yang membuat khayalannya seakan nyata. Ia bersyukur akan kejadian itu, karena ia dapat melihat kejadian yang akan datang nantinya. Kematian.
Ibu, adalah seseorang yang sangat ia sayangi dan tak akan pernah ia sakiti. Bocah itu berdoa agar kelak ia dapat melewati proses hidup dengan tenang, puas dan senyuman. Proses di mana kejadian yang telah terjadi dalam tidurnya itu menjadi nyata nantinya. Khayalan tingkat tinggi yang dapat membuat seseorang menangis nyata ini adalah pesan, dari sang pencipta. Video nyata dari Tuhan. Allah yang Maha Esa.
Makna tersirat dari mimpi, untuk bersyukur dan tak menyia-nyiakan segalanya.
Setelah ia pulih, ia meneteskan tanda kesedihannya sekali lagi. Dengan senyuman.
Pertanda,
Sang pemimpi
Kamis, 27 September 2012
Melepas Kangen
Hey Guuuys!
Hahaha kangen siah gue ama blog tercintah inih lo kangen ga? engga? makasih ya. Ga tau mau nulis apaan nih gue. Akhirnya posting juga setelah sekian tahun ga ngeblog lagi *Iyuuwh.
Cuma melepas kangen,
Si Penulis
Hahaha kangen siah gue ama blog tercintah inih lo kangen ga? engga? makasih ya. Ga tau mau nulis apaan nih gue. Akhirnya posting juga setelah sekian tahun ga ngeblog lagi *Iyuuwh.
Cuma melepas kangen,
Si Penulis
Minggu, 20 Mei 2012
Selamat Pagi
You are enthusiastic at 'something' that you want than 'something' that you need. But now, gue udah dapet 'something' yang dibutuhkan hahaha oh iya selamat pagi. Minggu yang cerah untuk ngetik ini post, sambil dengerin lagu kenceng-kenceng lewat speaker di komputer. Ngomongin soal final Champions League antara Chelsea dari liga Inggris dan Bayern Munchen dari liga Jerman tadi dini hari, UCL tahun ini dijuarai Chelsea loh guys lewat adu penalty haha karena gua ga nonton jadi ga tau lebih spesifiknyo. Selamat buat The Blues yang jadi juara Liga Champion, tim dari Inggris berjaya lagi hahaha. Pasti yang taruhan megang Chelsea untung berat tuh haha #random. Oke. Happy Sunday.
Good Morning,
Botak
Good Morning,
Botak
Sabtu, 10 Maret 2012
Bahasa
Entah kenapa gue jadi sering mem-favourite kan tweet orang yang bahasanya kelewat keren, atau bahasa yang berkaitan dengan filosofi dan semacamnya. Gue sempet berfikir untuk ngambil jurusan bahasa kelak jika gue udah lulus sma. Temen gue yang notabene kelas tiga itu bilang "Bahasa mah mending jurusan Ips, ngapain lu cape-cape di Ipa". Terhentaklah gue. Semenjak kelas 3 smp, gue yang dari kecil bercita-cita jadi ahli teknologi macam Bill Gates, malah lebih tertarik ke bahasa. Menurut gue, menurut gue loh yah, ini opini loh yah, bener deh suer cuma opini. BASI LO GIH!!!!. Yaudah gapapa. Menurut gue, bahasa itu pelajaran yang paling gampang, why? why not. Bukan itu pinter!!! *Pengunjung langsung keluar*. Itu karena di bahasa, kita ga usah repot-repot ngitung dan mikir rumus. Yang dibutuhkan cuma kreatifitas. Kita justru berfikir real, tentang fakta yang absolute. Contoh nih ya,
Jumat, 17 Februari 2012
Langganan:
Postingan (Atom)